Blue Bird Group

Blue Bird Group Perluas Armada dan Genjot Belanja Modal Agresif

Blue Bird Group Perluas Armada dan Genjot Belanja Modal Agresif
Blue Bird Group Perluas Armada dan Genjot Belanja Modal Agresif

JAKARTA - Industri transportasi darat memasuki tahun yang penuh ekspektasi baru. Di tengah dinamika ekonomi dan perubahan perilaku mobilitas masyarakat, PT Blue Bird Tbk. (BIRD) menatap 2026 dengan langkah ekspansi yang lebih progresif. 

Perusahaan taksi yang telah lama menjadi pemain utama di sektor ini memastikan strategi pertumbuhan tetap berjalan melalui peningkatan belanja modal, penambahan armada, serta penguatan fitur digital.

Optimisme tersebut muncul setelah perusahaan mencatat kinerja yang solid pada tahun sebelumnya. Manajemen melihat ruang pertumbuhan masih terbuka, meskipun tantangan ekonomi dan sentimen global tetap membayangi. Dengan fondasi operasional yang dinilai kuat, Blue Bird bersiap memperbesar skala bisnisnya tahun ini.

Ekspansi Armada Dan Peningkatan Belanja Modal

Direktur Utama BIRD Adrianto Djokosoetono menegaskan bahwa pembelian armada baru akan terus dilakukan sebagai bagian dari strategi pertumbuhan perseroan. Bahkan, alokasi belanja modal atau capital expenditure pada tahun ini dianggarkan lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya.

“Pembelian armada selalu ada. Tahun ini kami anggarkan lebih besar dari tahun lalu,” katanya.

Walaupun manajemen belum merinci persentase kenaikan belanja modal maupun jumlah unit kendaraan tambahan, sinyal yang diberikan cukup jelas: ekspansi armada akan berlangsung lebih agresif. Langkah ini menjadi bagian penting untuk menjaga daya saing di tengah kompetisi layanan transportasi yang semakin beragam.

Penambahan armada juga berkaitan erat dengan upaya meningkatkan kualitas layanan serta memperluas jangkauan operasional. Dengan armada yang lebih besar, perusahaan memiliki fleksibilitas lebih tinggi dalam merespons lonjakan permintaan, terutama pada periode-periode tertentu yang bersifat musiman.

Optimisme Di Tengah Tantangan Ekonomi

Dari sisi prospek bisnis, Blue Bird menilai 2026 berpotensi lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, manajemen tidak menutup mata terhadap tantangan yang masih membayangi industri, khususnya yang berkaitan dengan siklus ekonomi.

Perseroan menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi tentu akan berdampak positif terhadap bisnis. Meski demikian, apabila pertumbuhan ekonomi sedikit lebih rendah dibandingkan tahun lalu, perusahaan tetap melihat adanya ruang pertumbuhan.

"Tapi walaupun growth-nya lebih rendah dari tahun lalu, tetap ada growth. Jadi kami optimistis,” ujarnya.

Selain faktor domestik, sentimen global seperti gejolak geopolitik dan fluktuasi pasar keuangan juga diakui sebagai faktor eksternal yang tidak dapat dihindari. Bahkan, koreksi pasar yang sempat terjadi menjadi bagian dari dinamika yang harus dihadapi pelaku usaha.

“Secara umum rasanya tahun ini bisa lebih baik dari tahun lalu, meskipun tetap ada challenge yang tidak bisa diprediksi,” tambahnya.

Sikap optimistis tersebut didasarkan pada keyakinan bahwa kebutuhan mobilitas masyarakat tetap ada. Selama aktivitas ekonomi berjalan dan mobilitas publik terjaga, layanan transportasi akan terus dibutuhkan.

Momentum Ramadan Dan Dinamika Mobilitas

Memasuki periode Ramadan dan Idulfitri, Blue Bird biasanya mencatat pola musiman berupa peningkatan aktivitas pergerakan masyarakat. Namun, besaran dampaknya sangat bergantung pada lamanya periode liburan yang ditetapkan.

Perubahan mobilitas dari kota besar ke kota kecil saat arus mudik menjadi dinamika tersendiri. Selain itu, arus balik ketika masyarakat kembali bekerja juga menciptakan lonjakan permintaan layanan transportasi. Meski demikian, manajemen menilai lonjakan tersebut bersifat temporer.

Fenomena ini tetap menjadi peluang jangka pendek yang dapat dimanfaatkan untuk mendorong kinerja. Namun, perusahaan menyadari bahwa pertumbuhan berkelanjutan tidak dapat hanya bergantung pada momentum musiman semata. Oleh sebab itu, strategi jangka panjang melalui ekspansi armada dan penguatan teknologi tetap menjadi prioritas.

Selain ekspansi fisik, Blue Bird juga menyiapkan peningkatan investasi di sektor teknologi. Dalam waktu dekat, perseroan akan meluncurkan pembaruan fitur pada aplikasi MyBluebird. Langkah ini menunjukkan komitmen perusahaan dalam memperkuat layanan digital sebagai bagian dari transformasi bisnis.

Kinerja Keuangan Dan Kontribusi Segmen Usaha

Sepanjang Januari hingga September 2025, Blue Bird mencatat kinerja yang positif. Pendapatan perusahaan mencapai Rp4,12 triliun hingga kuartal III/2025, tumbuh 12,4% dibandingkan periode yang sama sebelumnya. Sementara itu, laba bersih meningkat 10,5 persen menjadi Rp488 miliar.

Sekitar 70% kontribusi pendapatan berasal dari segmen taksi, sedangkan 30% lainnya berasal dari segmen non-taksi. Segmen taksi menunjukkan kinerja yang positif, didorong oleh peningkatan permintaan di luar wilayah Jadetabek yang memperlihatkan pemulihan kuat, serta optimalisasi armada yang efektif.

Di sisi lain, segmen non-taksi juga terus menguat. Layanan bus, shuttle, dan bus rapid transit berkembang melalui perluasan jangkauan serta peningkatan tingkat okupansi. Diversifikasi ini membantu perusahaan menjaga stabilitas pendapatan dan mengurangi ketergantungan pada satu lini usaha saja.

Dengan kombinasi ekspansi armada, peningkatan belanja modal, penguatan teknologi, serta kinerja keuangan yang solid, Blue Bird menatap 2026 dengan optimisme terukur. Meskipun tantangan ekonomi dan sentimen global masih menjadi variabel yang sulit diprediksi, manajemen percaya fondasi bisnis yang telah dibangun akan mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan.

Langkah agresif dalam menambah armada dan memperbarui fitur digital menjadi sinyal bahwa perseroan tidak hanya bertahan, tetapi juga bersiap mempercepat laju pertumbuhan di tengah kompetisi industri transportasi yang semakin dinamis.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index